Susi Pudjiastuti: Ekspor Penting, Tapi Lebih Penting Gizi Ikan Rakyat Indonesia Terpenuhi

http://cdn1-a.production.liputan6.static6.com/medias/764581/big/036933700_1415699621-Susi-Pudjiastuti-aji-141111.jpg
Bali - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti sangat serius akan pengelolaan laut yang berkelanjutan. Hal inilah yang melatarbelakangi dirinya sangat mengecam aksi illegal fishing atau pencurian ikan.

Pencurian ikan akan menimbulkan banyak efek, mulai dari tidak terdatanya potensi ikan di laut, penangkapan yang tidak sesuai dengan aturan, sehingga membuat ekosistem laut terganggu dan pada akhirnya mengancam keberlanjutan potensi dari perairan tersebut.

"Sustainability without growth is no meaning. But growth without sustainability is also become nothing. Karena kalau sudah enggak ada ikannya mau apa lagi?," ujar Susi di sela acara World Oceans Summit di Nusa Dua, Bali, Jumat (24/2/2017).

Pemerintah sendiri mendorong, adanya pertumbuhan dalam industri perikanan namun juga dengan keberlanjutan dari industri dan sumber daya ikan itu sendiri. Namun demikian, Susi mengaku tak selalu mengedepankan industri sebagai awal pertumbuhan perikanan dalam negeri.

"Untuk saya, lebih penting ikan kita cukup di Indonesia dulu. Ekspor is important but very important is bangsa Indonesia makan ikan dulu," ujar Susi.

"Persoalannya, China itu beli ikan murah. Ikan layur, sekarang orang Indonesia enggak bisa makan. Sekarang ikan layur sudah ekspor, sudah dapat pasar. Masyarakat enggak bisa makan. Cakalang juga sudah begitu," tambahnya.

Untuk mengatasi masalah ini, Susi mengatakan ikan yang dibanderol dengan harga murah nantinya tak lagi jadi prioritas untuk ekspor.

"Harusnya nanti enggak boleh ekspor ikan gelondongan. Kecuali fresh, yang hidup. Kalau hidup, kan harganya tinggi. Tapi yang penting sekarang ini sudah muncul kesadaran, sustainability dan growth itu harus paralel," pungkasnya. (mkj/detik)
  • Terpopuler Minggu Ini