Pesan Ayah Ahok: Jadilah Pejabat Jujur dan Bantu Muslim Dirikan Masjid

adsense 336x280

60Detik - Jakarta - Calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut dua, Basuki Tjahaja Purnama menanggapi tulisan dalam buku "A Man Called Ahok" yang ditulis Rudi Kurawa dengan kisah bagaimana dirinya dititipi pesan oleh ayahnya untuk menjadi seorang pejabat publik.

Tanggapan tersebut disampaikan Basuki ketika menghadiri Bedah Buku "A Man Called Ahok" di Hotel Santika Premier, Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Barat, Kamis (19/1).
"Jujur saja, saya kira saya dipengaruhi Bapak saya. Beliau bilang, bangsa kita banyak yang pintar tapi kita tidak bisa bantu mereka. Bapak saya bilang, kamu harus jadi pejabat karena pejabat menentukan nasib orang banyak," ujar Basuki.

Ia mengatakan, almarhum ayahnya, Indra Tjahaja Purnama merayu dirinya supaya dirinya bisa menjadi pejabat. Apalagi keluarganya merupakan orang berada di antara orang-orang yang tinggal di kampung tempat tinggalnya, Desa Gantung, Kecamatan Manggar, Belitung Timur.
Alasan agar bisa menolong warga kampung supaya mereka hidup sejahtera, kesehatan, dan pendidikannya terpenuhi hanyalah menjadi seorang pejabat. Sebab ayahnya menyadari meskipun ingin menolong lebih banyak lagi, hal itu tidak bisa dilakukan jika tanpa menduduki jabatan.



Baca juga: Kasus Ahok Banyak Kejanggalan
 

Ia juga kerap bercerita tentang ilustrasi sang ayah yang hingga saat ini masih sering diceritakannya kepada khalayak ramai. Ilustrasi tersebut adalah jika seseorang ingin membagikan uang Rp 1 miliar kepada rakyat, masing-masing Rp 500.000, jumlah tersebut hanya akan cukup dibagikan untuk 2.000 orang. Namun apabila uang tersebut digunakan untuk berpolitik, bayangkan jumlah uang APBD yang besar dan bisa dikuasai untuk kepentingan rakyat dalam hal apapun.

"Kami ini orang kampung. Betul-betul tinggal di kampung. Saya ingat waktu Bapak saya meninggal tahun 1997, kan jenazahnya dibawa dari Jakarta ke Belitung, saya bawa istri dan mertua, mereka baru ikut pertama kali. Istri saya bercanda ke mertua saya, kita ketemu Ahok gayanya kayak anak megapolitan, tapi ternyata kampung banget," kata Basuki yang mengundang gelak tawa hadirin di acara tersebut.

Ia mengatakan, kampungnya menjadi modern karena adanya PT Timah di sana. Belitung Timur saat itu bahkan memiliki bandara karena sudah berhubungan dengan Jakarta. Tidak hanya itu, setiap kecamatan di Belitung Timur memiliki lapangan golf selain lapangan untuk olahraga lainnya mulai dari voli, tenis, basket, hingga billiard.

"Di tengah situasi seperti itu kami dilahirkan. Kampung Bapak saya lebih kampung lagi, rumah besar kakek saya satu gedung besar dari kayu. Bapak saya hidup di situ," katanya.
Pesan yang ia ingat dari ayahnya salah satunya adalah mengirim batu untuk orang yang akan membangun masjid. Saat itu, ayahnya berpesan supaya Basuki segera mengirim batu untuk membuat fondasi apabila ada yang membangun masjid. Hal tersebut karena ayahnya mendengar bahwa orang Islam percaya yang memberi bantuan untuk batu dan pasir untuk fondasi akan terus mendapat pahala.
(suara pembaharuan)

Baca Juga: Kapolri Tak Kan Biarkan Rizieq lolos dari jeratan Tersangka
Baca Juga: MUI Mengobral Harga Diri Bangsa 
adsense 336x280