Pengamat: Banyak Kritik Justru Bumerang Bagi Lawan Ahok-Djarot Karena Lupa Program Kerja

adsense 336x280

Jakarta, 60detik -- Acara debat perdana pemilihan kepala daerah DKI Jakarta 2017 yang digelar Komisi Pemilihan Umum Daerah Jakarta pada Jumat (13/1), harus menjadi evaluasi bagi setiap pasangan calon untuk menghadapi debat kedua pada 27 Januari mendatang.

Pengamat politik dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Susilo Utomo memberi perhatian khusus pada pasangan calon gubernur dan wakil gubernur nomor urut satu dan tiga yaitu Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Susilo berpendapat pasangan Agus-Sylvi dan Anies-Sandiaga harus lebih berhati-hati pada debat putaran dua nanti baik dalam melontarkan pertanyaan dan juga pertanyaan kepada pasangan calon nomor dua yang merupakan petahana gubernur dan wakil gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok-Djarot Saiful Hidayat.

Ketua Laboratorium Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Undip itu mengatakan pasangan Agus-Silvy dan Anies-Sandi dalam debat kedua diharapkan untuk tidak terus mengkritisi program petahana pasangan Ahok-Djarot.

“Ini karena dikhawatirkan akan bisa menjadi bumerang bagi Agus-Sylvi dan Anies-Sandi karena lupa dengan program yang dibuatnya sendiri,” ujar Susilo kepada CNNIndonesia, Sabtu (14/1). Bagi Susilo pasangan Ahok-Djarot memiliki banyak keunggulan ketimbang dua pasangan lainnya karena sebagai petahana Ahok dan Djarot sudah mempunyai hasil kerja nyata yang dirasakan masyarakat Jakarta. Hal tersebut tentunya  menjadi nilai lebih yang tidak dimiliki oleh Agus-Sylvi dan Anies-Sandi yang baru hanya sebatas menawarkan program-program kerja.

Susilo menilai pada debat pertama pasangan Agus-Sylvi dan Anies-Sandi banyak menyorot kinerja petahana yang dinilai banyak kekuarangan.

"Kalau debat pertama terlihat sekali pasangan calon nomor urut satu dan tiga terus mengkritisi petahana. Hati-hati jadi bumerang nanti karena terus lupa dengan programnya sendiri,” lanjut Susilo.

Susilo menambahkan debat pertama pilkada Jakarta cukup efektif untuk menunjukkan kapasitas dan kemampuam dari setiap pasangan calon yang ada. Perubahan komunikasi dan gaya politik juga terlihat pada Agus Yudhoyono yang mulai mapan, sedangkan Ahok juga terlihat santun menjaga bicaranya. Sementara untuk Anies, masih sering terlihat seperti dosen yang normatif.

"Gaya komunikasi politik masing-masing calon menunjukkan perubahan. Agus yang dari TNI mulai terlihat mapan meski belum optimal, Ahok mulai santun bicaranya, sayang Anies masih seperti dosen. Harus diubah ini,” tutur Susilo.

Direktur Eksekutif Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma) Said Salahudin mengatakan secara umum Ahok terlihat cukup tenang dan rileks ketika berbicara. Ahok relatif mampu mengendalikan sikap temperamentalnya. Hanya sesekali saja suaranya meninggi.

Said menilai Ahok juga tidak terlihat tertekan dalam posisinya sebagai calon petahana yang lazim menjadi pusat serangan.

"Sementara penampilan Anies tidak berubah. Ia tetap muncul dengan tampilan berwibawa. Cara bicaranya cukup menyejukan, sistematis, argumentatif, tetapi juga tegas. Dia tampil cukup simpatik," kata pengamat politik tersebut.

Said juga menyoroti kelemahan lawan Ahok-Djarot seperti pernyataan Anies-Sandi soal program penegakan hukum yang ditawarkan sebetulnya masih terkait dengan program pembangunan kualitas manusia.

"Hal ini tercermin dari contoh-contoh kasus yang mereka anggap harus diproses secara hukum, seperti kasus prostitusi dan peredaran narkoba yang marak di tengah masyarakat, terutama di tempat-tempat hiburan malam," ujar Said.

Sayangnya, ujar dia, pasangan ini seperti kurang mengikuti informasi sehingga ketika memilih contoh kasus yang dianggap memerlukan proses penegakan hukum, sampel tersebut ternyata telah lebih dulu disoroti dan diproses secara hukum oleh pasangan calon yang lain, yaitu pasangan petahana.(CNN Indonesia)
adsense 336x280