Antasari: Saat didakwa kasus pembunuhan "Fiktif", SBY tak empati terhadap saya


60Detik, Jakarta: Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar sempat menyindir cuitan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono terkait dengan beredarnya berita hoax dan informasi bohong. Menurut Antasari, lebih baik SBY, sapaan dari Presiden ke-6 RI, peduli dengan kasusnya yang diyakini tidak bersalah.

Antasari mengatakan, kritikan itu terlontar lantaran dia sebagai warga neraga ingin bisa hidup tenang dan nyaman setelah bebas dari jeruji besi. 
"Saya sebagai warga negara yang tidak punya kegiatan tetap, saya ingin setelah keluar lapas, ingin juga bisa jalan-jalan bersama cucu dengan tenang. Tidak was-was," ucap Antasari saat Prime Time Metro Tv, Jakarta, Kamis (26/1/2017).

Dia menilai, bila seorang pemimpin melontarkan cuitan seperti yang dilontarkan SBY justru membuat masyarakat semakin khawatir dan ketar-ketir. Terlebih, dia membaca di koran saat ini Indonesia dikuasai berita hoax dan dikuasai juru fitnah.

"Sementara sata sedang menunggu grasi. Wah jangan sampai terganggu grasi saya, sehingga tidak diproses (gegara cuitan SBY)," bebernya.



Baca Juga: Kapolri Tak Kan Biarkan Rizieq lolos dari jeratan Tersangka
Baca Juga: MUI Mengobral Harga Diri Bangsa 


Merasa tak percaya, Antasari menanggapi, bisa saja Presiden Joko Widodo saat ini bakal terhasut lantaran cuitan tersebut. Wajar, kata Antasari, seorang Presiden juga manusia.

"kenapa SBY bisa begitu, kenapa tidak bantu saya saja di akhir-akhir masa usianya," ucapnya.

Terlebih, Antasari menuturkan, selama terjerat kasus pembunuhan, tidak ada itikad sedikitpun dari SBY untuk membantunya. Jangankan membantu, rasa empati saja tak dirasakan oleh Antasari.

"Jika saya tidak dekat dengan beliau (SBY) sejak awal. Beliau (SBY) tidak peduli, saya tidak masalah. Padahal dulu intens sekali, setiap bulan bertemu. Saat saya masuk tahanan, beliau tidak ada rasa empati. Saya pejabat negara, beliau kepala negara, saya khawatir ada yang melapor ke beliau dan beliau jadi tersesati," bebernya.

Kala itu, kata Antasari, SBY justru mendesak untuk terus mengusut kasus yang menjeratnya hingga tuntas. Sejak itu, kata dia menilai, SBY sudah tak peduli lagi kepadanya.

Antasari menyakini, kala itu SBY mungkin disesati oleh laporan pejabatnya kala itu. Sehingga tak berempati terhadap kasusnya. Dia menyakini, sebagai mantan pejabat negara, seorang petugas dan penegak hukum yakni Polri dan Jaksa Agung sebagai lembaga eksekutif pasti melapor langsung ke SBY.

Meskipun baru sedikit Antasari terbuka perihal kasus yang menjeratnya tersebut, Antasari berjanji bakal membuka siapa pihak-pihak yang telah mendatanginya sebelum kejadian pembunuhan tersebut.

"Saya janji akan menyampaikan ketika saya diundang lagi," tukasnya.

Seperti diketahui, Antasari disebut otak pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nazarudin Zulkarnaen. Pada 11 Februari 2010, dia divonis 18 tahun penjara. Setelah tujuh setengah tahun menjalani hukuman, pada 10 November 2016, Antasari mendapatkan bebas bersayarat. Kini dia dinyatakan bebas murni, setelah grasinya telah dikabulkan oleh Presiden Joko Widodo.


(LDS/Metrotvnews.com)
  • Terpopuler Minggu Ini