Intoleransi: TERORISME Terselubung

adsense 336x280
Dulu menterjemahkan terorisme itu tidak sulit. Aksi terorisme hanya seputar sabotase, vandalisme, umumnya dengan cara meledakkan bom di tempat umum menewaskan rakyat sipil tak berdosa demi menyatakan sikap, misal: anti barat, anti pemerintah, dll.

Namun sejak lahirnya gerakan "Khilafah" global yang berklimaks di kemunculan ISIS, nilai-nilai EKSTRIMISME yang tadinya hanya dianut oleh pelaku teror, sekarang mulai menjalar ke berbagai sendi kehidupan masyarakat bak kanker ganas
Gerakan ini mencoba membuat nilai-nilai Ekstrim menjadi Normatif dengan dalih "membela akidah". Mencoba membuat sesuatu yang ABNORMAL menjadi normal. Mencoba membuat sesuatu yang BIADAB menjadi beradab, semua dengan dalih "membela agama Allah".

Perlu ada Redefinisi (peracikan ulang arti) dari kata "Terorisme", karena aksi teror saat ini tak hanya berwujud ledakan bom saja, tapi juga memiliki wajah-wajah lain yang lebih halus tapi punya daya rusak tak kalah hebat, yakni: teror ideologi, teror kerukunan, teror ibadah orang.

DOKTRIN PURITANISME AKAR MASALAH
Akar pemasalahan terorisme adalah PURITANISME, atau doktrin yang menanamkan keyakinan bahwa Islam yang ada saat ini sudah "tidak murni tidak asli", dan perlu dimurnikan keasliannya berdasarkan penilaian sepihak & subyektif.
Umat muslim dicuci otak agar percaya "Islam sudah tidak murni" & mengklaim aliran tertentu paling asli islamnya, lalu diajarkan bahwa orang di luar kelompok mereka adalah "sesat" bahkan "kafir". Ujungnya menghalalkan darah siapa saja yang berbeda pendapat.
Nilai-nilai ekstrim ini disosialisasikan sebagai "kenormalan berakidah" memperdayai umat Muslim untuk percaya bahwa menganiaya, berbuat zalim, bahkan membunuh itu BOLEH dalam menegakkan syariat & memerangi "kafir", dalam keadaan damai (bukan perang) sekalipun.

BARBARISME HALAL DALAM BERAKIDAH
Perbuatan-perbuatan barbarik & tidak manusiawi dihalalkan asalkan dalam koridor "akidah". Dan karena semua orang di luar aliran mereka dianggap "kafir", maka penghasutan permusuhan pun dikobarkan kepada siapapun di luar lingkaran mereka, baik etnis maupun sektarian.

Prejudisme, kebencian terhadap etnis tertentu atau aliran tertentu yang sejatinya 100% POLITIK demi kekuasaan absolut kemudian DIBALUT jubah "akidah". Berbagai media, ulama, sampai tokoh politik dalam lingkar mereka pun bersinergi membantu penebarannya.

Masih segar ingatan kita Walikota Bogor yang menerbitkan larangan beribadah bagi umat Islam aliran tertentu bak ormas jalanan menutup Gereja. Sampai yang paling hangat terjadi di kota Bangil ketika kader dari parpol Islam ultra kanan menggeruduk perayaan kelahiran anak Nabi Muhammad.
Hasutan permusuhan juga dikobarkan kepada simbol-simbol negara seperti pada Satuan Anti Teror, KPK, TNI, POLRI, dan pemerintah RI yang dianggap "anti syariat" karena menolak mendirikan negara Islam di Indonesia.

TERORISME TERSELUBUNG
"Terorisme" sudah tidak bisa dipatrikan hanya pada aksi teror meledakkan bom saja. Karena aksi mengkafirkan, menghasut permusuhan SARA atau pada simbol negara, melarang orang ibadah, semua didasarkan nilai-nilai Ekstrim SAMA dengan yang dianut oleh Osama Bin Laden, Al-Qaeda, ISIS, Boko Haram & Abu Sayyaf.

Jadi bedanya dimana? Bedanya yang satu bersenjata yang satu tidak, tapi ajaran sama, doktrin sama, yang diperjuangkan juga sama. Beda orang tapi satu aliran. Beda aksi tapi daya rusak sama. Bila bom menghilangkan nyawa, yang ini membunuh kerukunan & membunuh bangsa.

Maka bagi mereka yang suka mengkafirkan, menghasut permusuhan SARA atau pada simbol negara, melarang orang ibadah, sudah pantas kiranya kita sebut mereka sebagai "TERORIS". Karena yang mereka lakukan SAMA KEJINYA dengan meledakkan bom membunuh orang tak berdosa.
YUK PANGGIL MEREKA "TERORIS"!

Source : Ustad Abu Janda al-Boliwudi
adsense 336x280