Bahasa Pati yang Unik : Ndang Gage diwaca

adsense 336x280


Tergelitik dengan status teman malam ini, soal uniknya bahasa Jawa yang digunakan di Pati. Memang beda ya..? Sepertinya sih begitu.
Gambar copas dari googleTak hanya ujaran sebetulnya. Tapi logat Pati pun berbeda. Dalam perjalananku pulang dari Bogor atau dari Bali ke Pati, aku akan mudah membedakan mana penumpang yang berasal dari Pati, mana yang dari Semarang, (apalagi dari Jawa Timur), dan seterusnya, hanya dari logatnya. Emang apa yang membedakannya..? Emmh, apa ya, aku sendiri susah menjelaskannya, entah pada tekanannya di suku kata terakhir entah pada.. Pokoknya yang jelas beda !!
Kembali pada ujarannya yang unik, masih teringat dulu seorang dosen pernah berkata padaku, "Ada 2 hal yang saya ingat dari Pati : tanahnya yang kering, nela bahasa Jawanya dan akhiran em/nem untuk menunjukkan kata ganti milik". Saat itu, barulah aku sadar. Iya..ya.. Orang Pati mana pernah bilang, "bukumu, omahmu, nggonmu, sepedamu..dst" pasti nyebutnya, "bukunem, omahém, nggonem, sepedaem.." Kenapa begitu ya..
Bagi orang Pati sendiri, kami memandang ada 2 ujaran khas yang diucapkan wong "Pati njekek", yaitu "leh" dan "go".. Apa artinya ? Menurutku si ga ada, hanya penekanan saja. Misalkan, "piye leh..ayo go ndang mangkat.." yang berarti "gimana si, ayolah segera berangkat.."
Apalagi yang lain ? Emmh, mungkin kata "tétér" yang berarti rusak. Ato kata "nda-ndeh" yang mungkin bisa diartikan apa-apa. Kata ini biasanya mengikuti "ga ana" yang jika digabung "ga ana nda-ndeh" akan berarti tidak ada apa-apa.
Kadang kami juga memplesetkan sedikit huruf dari suatu kata. Jika di tempat lain mereka biasa berujar "jare" yang berarti "kata" maka orang Pati lebih familiar menyebutnya "hare".
Jika mereka lebih sering menyebut sisir dengan kata "jungkas", kadang kami lebih suka menyebutnya "jungkat".
Apakah keunikan ujaran ini hanya milik orang Pati.. Tentu saja tidak. Aku juga masih takjub mendengar temanku yang dari Pekalongan mengucapkan kata "pa'é". Kupikir tadinya berarti bapak/ayah. Namun ternyata berarti "arep" dalam bahasa Jawa umum atau "akan" dalam bahasa Indonesia. Kalau orang Pati si menyebutnya "ameh/ape".
Betapa kaya dan beragamnya bahasa Jawa terjadi dalam kasus ini. Saat aku masih ngekos di BS, Bogor ada beberapa teman yang dari Jawa. Meskipun kami sama-sama Jawa, namun ujaran kami untuk menyebut kata dingin agak berbeda. Temanku dari Solo menyebutnya "adem", aku yang dari Pati menyebutnya "atis", dan teman dari Wonosobo menyebutnya "anyes". Jadi, saat Bogor dingin, pada saat yang sama, masing-masing akan berteriak adem !, atis !, anyes ! Hahaha, what a world !!
Untuk yang ingin bernostalgia dengan kata-kata uniknya Pati ini, silakan aja klik tulisannya mas yacob yahya di sini.
Ada 3 seri tulisan tentang ini..
Hehehe, mari bernostalgia !
*Buat ms Yacob, bro, izin blogmu taklink disini ya :-)


adsense 336x280